Jejak Terakhir Moors

Alhambra

ABU Muhammad Abdullah berjalan sambil menunduk penuh luka. Ia takut menoleh ke belakang dan melihat kembali Alhambra yang diselimuti bayang kehancuran. Sebentar lagi ia akan pergi, meninggalkan semua kemegahan Andalusia yang dibangun bertukar dinasti.

Tapi, kerinduannya akan nuansa Islam dalam istana Alhambra membuat ia tak sanggup menahan emosi.

“Allahu akbar…!”

Raja dengan nama panggilan Abu Abdil itu mengucapkan takbir. Tangannya tak lagi dikepalkan ke udara, seperti dulu pernah dilakukan saat memerangi kerajaan-kerajaan di Spanyol. Mulutnya bergetar, hati tertekan.

Untuk terakhir kalinya Abu Abdil menoleh ke belakang, melihat Alhambra dan kemudian memalingkan mata ke ibunya, Aisyah, yang memanggilnya sambil terisak.

“Anakku. Kau dapat menangis selayaknya wanita. Tapi, mengapa kau tidak bisa melakukan perlawanan selayaknya pria…?” itu kata terakhir yang didengar Abu Abdil sebelum ia pergi.

Di satu jalan di Alpujara, 2 Januari 1492, Abu Muhammad Abdullah akhirnya luluh juga. Di ujung “El ultimo sopiro del Moro” dia menangis. Selamat tinggal Alhambra…!

Stanley Lane-Poole mengisahkan detik-detik kepergian Raja Granada itu dari istana Alhambra, dalam bukunya The Moors in Spain (1887).

Raja Abu Muhammad Abdullah merupakan raja terakhir dari Dinasti Bani Ahmar, yang mampu mempertahankan Granada hingga 1492. Granada sendiri merupakan kerajaan Islam terakhir di Spanyol, yang bertahan setelah Cordova dan Sevilla ambruk.

Di ujung 1491, tentara Ferdinand dan Isabella memasuki tapal batas Granada, kemudian menemui Abu Muhammad Abdullah untuk berunding mengenai penyerahan kekuasaan. Secara tertutup, raja Granada menerima penakluk Spanyol itu dan menandatangani perjanjian damai “Deklarasi Solemn”. Perjanjian itu berisi 67 pasal, dengan inti umat Islam di Granada tidak akan dibantai jika mau pindah agama dan sang raja diberi jaminan keamanan untuk pergi dari kerajaan itu.

Abu Muhammad Abdullah naik ke kapal dan berlayar menuju Afrika Utara, menyeberangi Selat Gibraltar dengan kepala tertunduk. ***

SEJARAH terbalik. 800 tahun sebelum Abu Muhammad Abdullah meninggalkan Granada, Thariq bin Ziyad mengarungi selat itu dengan semangat berkobar untuk menaklukkan Andalusia dan menancapkan tonggak Islam.

Thariq bin Ziyad bin Abdullah adalah seorang panglima perang. Nama putera asli suku Ash-Shadaf dari Afrika Utara ini tercatat dengan tinta emas dalam sejarah penyebaran Islam. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah, ahli menunggang kuda, menggunakan senjata dan ilmu bela diri. Di masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik atau Al-Walid I (705-715 masehi) dari Bani Umayah, Thariq dikenal sebagai panglima yang sulit ditaklukkan.

Pada Rajab 97 hijriah atau Juli 711 masehi, Thariq mendapat perintah dari Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nusair, untuk menyeberang ke semenanjung Andalusia (Semenanjung Iberia, yang sekarang meliputi Spanyol dan Portugis).

Buku-buku sejarah mencatat keberanian Thariq, terutama tentang kharismanya yang membuat tentara Islam tidak pernah menyerah berjuang hingga tetes darah penghabisan. Stanley Lane-Poole, dalam The Moors in Spain mengutip beberapa keteladanan dari Thariq.

“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanya kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah, bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim”.

“Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh”.

“Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Karena itu, pertahankanlah jiwa kalian”.

Kalimat itu diucapkan Thariq bin Ziyad sebelum membakar kapal yang digunakan menyeberangi Selat Gibraltar. Satu-satunya pilihan bagi 7.000 pasukan Islam saat itu hanya menghadapi 100.000 pasukan Visigoth, untuk menaklukkan Andalusia dan mati syahid di sana.

Pidato tersebut membakar semangat jihad pasukannya. Mereka segera menyusun kekuatan untuk menggempur pasukan kerajaan Visigoth, Spanyol, yang dipimpin Raja Roderick. Pasukan Visigoth tumbang di tangan tentara muslim. Roderic terluka parah dan jasadnya tak pernah ditemukan hingga kini.

Orang-orang Spanyol dan Portugis menyebut Thariq dan balatentaranya sebagai Moors, karena menganggap mereka datang dari Maroko. Tapi, orang-orang Moors sendiri mengakui mereka datang dari Damaskus dan Madinah, lalu merekrut suku Barbar mualaf untuk dijadikan tentara jihad dan menaklukkan Andalusia.

Dalam kitab Tarikh al-Andalus disebutkan, setelah meraih kemenangan tersebut Thariq bin Ziyad menulis surat ke Gubernur Musa bin Nusair, mempersembahkan kemenangan kaum muslimin ini. Dalam suratnya itu ia menulis: “Saya telah menjalankan perintah anda. Allah telah memudahkan kami memasuki Andalusia”.

Setahun kemudian, Musa bin Nusair bertolak membawa 10.000 pasukan menyusul Thariq. Sejak itu, satu demi satu kota-kota di Andalusia berhasil diduduki tentara Islam; Toledo, Elvira, Granada, Cordoba dan Malaga. Lalu dilanjutkan Zaragoza, Aragon, Leon, Asturia dan Galicia. Penyebaran Islam ke Eropa pun dimulai dari Andalusia.

Pasukan Musa dan pasukan Thariq bertemu di Toledo. Keduanya bergabung untuk menaklukkan Ecija. Setelah itu, mereka bergerak menuju wilayah Pyrenies, Prancis. Hanya dalam waktu dua tahun, seluruh daratan Spanyol berhasil dikuasai. Beberapa tahun kemudian, Portugis mereka taklukkan dan mereka ganti namanya dengan Al-Gharb.

Setelah pembebasan Andalusia, tentara-tentara muslim beradaptasi dengan komunitas baru. Sesuai dengan kondisi sebagai serdadu yang tidak bisa membawa wanita, umumnya mereka menikahi orang-orang Spanyol, Visigoth, atau budak-budak Galicia untuk dijadikan isteri. Akulturasi terbentuk, yang kemudian membuat Islam meluas dan bertahan hingga labih 800 tahun di Spanyol.

Dari Andalusia, Musa dan Thariq kemudian berencana membawa pasukannya terus ke utara, menaklukkan seluruh Eropa. Ketika itu tidak ada kekuatan yang bisa menghadapi mereka. Tapi, niat itu tidak terwujud. Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka berdua pulang ke Damaskus, Suriah. Thariq pulang lebih awal, sedangkan Musa bin Nusair menyusun pemerintahan baru di Spanyol.

Setelah bertemu Al Walid, Thariq tidak kembali ke Eropa. Ia sakit dan wafat di Damaskus. Ia pergi setelah menorehkan namanya di lembar sejarah; Thariq bin Ziyad, putra asli Afrika Utara yang mampu menaklukkan Eropa.

Sayangnya, kehancuran datang 800 tahun kemudian. Raja terakhir dari Dinasti Bani Ahmar menyerahkan panji terakhir Islam di Granada. Stanley Lane-Poole mengisahkan langkah Abu Muhammad Abdullah saat meninggalkan Alhambra sebagai jejak terakhir orang Moors di Spanyol.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Harian Aceh Independen pada tahun 2009.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *